THE
BICYCLE THIEF (1948)
Membaca
kata ‘neo-realisme’ sebagai genre film The Bicycle Thief—sel-sel kelabu
di otak ini segera beranggapan tentang segala ke-absurdan yang diusung Andy
Warhol dan Salvador Dali (pikiran ini tetap ada bahkan setelah saya menonton
filmnya).
Frustasi.
Benar-benar frustasi rasanya selama satu setengah jam mengerutkan kening, ikut
melenguh kesal, dan meninju udara di ruang multimedia yang untungnya ber-AC itu
minggu lalu. Apalagi dengan ending yang ahjksdjkajksdajk sekali.
Vittorio de Sica jagoan. Dia bisa mengarahkan Lamberto Maggiorani yang adalah
pekerja pabrik, memerankan Antonio Ricci; seorang kepala rumah tangga yang
jujur, tidak lugu, dan malang. Kesan pertama saya pada Oom Antonio, dia
adalah karakter yang keras. Saya tidak bersimpati padanya di awal film. Tapi
saya juga sudah bisa menebak kalau Antonio sebenarnya hanya menginginkan yang
terbaik untuk keluarga kecilnya; bahwa hatinya lembut dan masa depresi paska PD
II yang menyebabkannya terlihat getir.
Bruno
Ricci tidak boleh dilupakan. Kelihatan sekali karakternya ini mengagungkan
ayahnya. Dapat dilihat pada scene hari pertama Antonio masuk kerja; sepertinya
saya pernah menonton scene ayah-dan-anak-memakai-seragam-bersama di film lain,
film zaman sekarang, yang berarti scene keren macam itu bahkan sudah ada
berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mantap jaya. Bruno juga setia menemani ayahnya
mencari sepeda ke alun-alun kota Roma. Kena tampar, memang, tapi Bruno tetap
berada di samping ayahnya ketika Antonio diarak massa karena kedapatan mencuri
sepeda yang tergeletak di depan gedung. Air matanya membuat bapak pemilik
sepeda membatalkan niatannya untuk membawa Antonio ke kantor polisi.
Saya
kira, Tante Maria, selaku istri daripada Oom Antonio adalah karakter yang
tegar. Sayang proporsi tampilnya sangat singkat. Saya senang karena dia
bergerak cepat ketika Antonio bilang dia bisa bekerja asalkan punya sepeda;
menjual seprai mas kawin untuk ditebus dengan uang dan dibelikan sepeda bekas.
Tidak mungkin lupa reaksi teman-teman melihat uang masa itu yang ukurannya sama
seperti kertas HVS.
Ngomong-ngomong,
dua kali saya kecele dengan jalan cerita film ini.
Pertama,
kehadiran Baiocco, yang disinyalir adalah teman Antonio. Saya doyan nonton
film, dan insting-insting pengamat saya minggu lalu membatin, “Ini karakter
gendut kayak gini, kalo nggak jahat, pasti selingkuh sama Maria. Dalihnya,
Maria bantuin Antonio karena keuangan keluarga tipis. Konflik bertambah, nggak
cuma kehilangan sepeda.”—tet tot, saya salah, karena ternyata Baiocco murni
seorang teman yang tulus membantu mencarikan sepeda saja.
Kedua,
scene Antonio mengejar pengemis tua keluar dari gereja sampai ke tepian sungai.
Beberapa menit setelah dia menyuruh Bruno untuk menunggu di jembatan, terdengar
kehebohan-kehebohan. Lagi, insting pengamat saya berseru, “Bah, bunuh diri
si Bruno. Pasti lompat ke sungai dia. Nyesel dah itu Antonio barusan nampar
Bruno.”—jeng net, waktu diketahui ternyata seorang pemuda yang tengah
berenang kemungkinan terseret arus, ingin rasanya saya gali kuburnya sang
sutradara.
Namun,
satu hal yang sedikit mengganjal menurut saya adalah; di antara sekian banyak
pelamar kerja yang mengantre, mengapa Antonio Ricci yang dipilih menjadi
penempel poster? Dia tidak punya sepeda, bung! Mengapa tidak memilih pelamar
yang sudah punya sepeda dan siap kerja saja?
Hubungan
antara judul notes ini dengan isinya saya padankan dengan satu scene paling
monumental buat saya. Sepanjang pencarian sepeda, tidak pernah sekalipun
Antonio menggandeng tangan Bruno; tidak peduli seberapa seringnya kamera
meng-shot muka melas Bruno yang melihat kepada wajah ayahnya, mendongak ke atas
dengan pandangan tetap mengidolakan. Tapi, selalu ada tapi—di akhir film;
Antonio menunjukkan emosi terdalamnya yaitu dengan menitikkan tangis (ingat,
dia adalah kepala keluarga yang dituntut untuk bisa mengatasi segala hambatan
dengan kepala tegak) sambil menggenggam tangan mungil Bruno yang masih shock
ya-ampun-papa-kenapa-nekat-nyolong-sepeda??—dan, pastinya, keironisan dari
tokoh Antonio sendiri. Konflik awal adalah sepedanya dicuri orang,
penyelesaiannya adalah dia berusaha mencuri sepeda orang namun gagal. Menjelang
akhir film, penonton disuguhi konflik batiniah Antonio. Penonton nyaris
dipastikan dapat membaca pikiran Antonio ketika dia terduduk lesu di trotoar, “Aku
harus mendapatkan sepeda. Terserah seperti apa caranya. Tanpa sepeda, aku tidak
bisa lagi bekerja. Maria harus makan apa? Bagaimana Bruno membayar sekolahnya?”
dan muncullah di penglihatannya sepeda yang bertengger manis itu. Logikanya,
jika seseorang bisa mencuri sepedaku, kenapa aku tidak bisa?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar