THE FOX EXPLOITS THE TIGER'S MIGHT

Saat Orde Baru berkuasa, banyak orang untuk diam. Beberapa memilih
begitu beberapa lagi karena terpaksa. Keberdiaman tersebut sejatinya
menandai represi. Salah satu represi itu juga tidak terkecuali
mempenetrasi tubuh dan seksualitas seperti yang disuguhkan film pendek
garapan Lucky Kuswandi berjudul
The Fox Exploits The Tiger’s Might.
Film ini diputar perdana di Film Musik Makan 2015 dan selama bulan
April tayang di progam #KolektifJakarta: Mengalami Kemanusiaan.
Di sana Lucky mengomentari hak yang mendasar juga sensitif: relasi
kekuasaan dan seksualitas dari kacamata etnis minoritas di kala Orde
Baru. Aseng adalah remaja SMP berdarah Tionghoa. Ia tinggal bersama
kakak perempuan dan ibunya di sebuah kota kecil yang dekat dengan markas
militer. Keluarga Aseng membuka warung yang juga menyediakan miras
selundupan. Tak jarang, keluarga Aseng perlu memberikan ‘salam tempel’
khusus untuk aparat agar bisnisnya tetap berjalan. Sementara itu, Aseng
sendiri berteman dengan David, anak pejabat militer yang
bossy. Keduanya tengah memasuki masa di mana libido tengah bergejolak juga lingkungan yang tak kalah beriak.
Dilihat dari judul,
The Fox Exploits The Tiger’s Might atau
hú jiǎ hǔ wēi merupakan
penamaan yang pas untuk itu. Judul tersebut diambil dari kisah terkenal
masyarakat Mandarin. Jika diartikan bebas; kelompok yang mem-
bully atau
menindas orang lain ketika mereka berasosiasi dengan seseorang yang
kedudukan yang lebih kuat. Beking yang membawa beceng, ah betapa
menjijikkannya itu.
Dengan latar pemerintahan Orde Baru, TFETTM mampu bermain-main dengan
makna kekuasaan secara ‘mengganggu’. Lihat saja jari jemari
memperagakan bentuk pistol, yang diikuti penggambaran repulsif aksi
felatio. Seolah-olah penjilat kekuasaan hadir di mana-mana. Selanjutnya
pistol sendiri berperan cukup penting, sebagai bentuk maskulinitas serta
pemegang kuasa.
Seksualitas pun tidak hanya tentang hasrat atau
pleasure namun juga bagian pernyataan politis dan kebebasan seseorang. Sebabnya, Lucky membawa penonton untuk bisa memaknai
sexual divesity. Lewat karakter Aseng yang naif, ia melihat dan dekat dengan beragam bentuk relasi seksual. Ibunya yang paruh baya mendapat
sexual harrastment oleh ajudan muda Ayah David,itu sedikit banyak menyiratkan
oedipus complex.
Ada lagi ketika Aseng mengintip kakaknya berasyik masyuk dengan sang
pacar di kamar, yang mendeskripsikan heterosexual. Namun dalam hubungan
hetero itu, si pria terlihat mengeksploitasi si perempuan dengan
menyuruhnya sesuai kehendak. Lalu, Aseng juga menatap lekat para tentara
melakukan push up di bawah komando. Ketiga gambaran tersebut menandakan
tubuh-tubuh diam yang diatur atau disiplinkan lewat relasi kekuasaan.
Tidak dipungkiri, ada superioritas dan inferioritas di dalam sana.
Di saat bersamaan, Aseng melihat seksualitas dengan pemahamannya
sendiri. Wajahnya tampak memendam. Ia merasakan banyak represif dan hal
menjijikan. Usianya yang masih di bawah umur meredamnya mengajukan
pertanyaan soal seks. Seperti yang kita tahu, remaja seusianya sering
dijauhkan dari hal berbau seksualitas. Membicarakan pun mengetahuinya
bisa menjadi dosa dan hukuman. Sekolah sebagai perpanjangan tangan
negara tidak terlepas dalam hal ini. Seragam sekolah yang kerap terlihat
dikenakan Aseng dan David tidak melulu sebagai simbol karakteristik
namun juga menyiratkan desain normalisasi itu. Salah satu faktor ini
membuat Aseng menjadi asing dengan bentuk seksualitas di luar yang
ditentukan padahal hal tersebut ada di kesehariannya.
Jauh sebelumnya, Foucault pernah menjelaskan keadaan seksualitas di
era Victoria yang harus direstriksi seperti tidak boleh dibicarakan
bahkan dipikirkan demi terciptanya masyarakat puritan yang utuh.
Alhasil, letupan wacana soal seks yang berasal dari arus bawah tak dapat
terhindarkan, menyebabkan identitas seksual menyeruak ke hadapan
publik.
Begitu pula dengan Aseng di penghujung film, semakin ia ditekan dan
diatur oleh David, besar pula kemungkinan menyongsong kebebasan. Karena
memang tiap laku kekuasaan selalu menghadirkan resistensi yang sama
kuat. Dilihat dari segi Male Homosocial Desire-nya Sedgwick, Aseng dan
David menyimpan kesamaan interest, yang paling kuat adalah video arcade
(kontrol game ini seperti
Phallus) dan foto Eva Arnaz. Keduanya membagi
pleasure.
Sampai satu momen Aseng melepaskan confession yang kemudian menjalarkan
homophobia oleh David. Ia mengumpati Aseng tapi tak berapa lama
menikmati
desire yang tumbuh. Pertanyaannya mungkin, apa perlu
coercive power untuk memastikannya?
Lucky menggambarkan hubungan Aseng dan David tidak secara tersurat.
Ia sengaja membuatnya menjadi samar-samar dan nyatanya kejelasan pun
tidak terlalu dibutuhkan. Artinya ending TFETTM nampak mengundang
penonton untuk mencerna perasaan yang hidup di dalam layar dan juga
menumbuhkan pertanyaan menggantung yang tidak pernah selesai. Akhirnya
tarik menarik persoalan ini ditutup dengan dua remaja yang bergulat dan
tetap bergulat tanpa tujuan di tanah lapang.
Siapa si Rubah Itu?
Si rubah bisa saja orang-orang seperti Ajudan Ayah David atau David
sendiri yang meneksploitasi asosiasinya dengan kekuasaan militer Orde
Baru demi mempencundangi kelas yang berada di bawah selangkangannya. Nah
hal ini menarik ketika dibenturkan dengan agenda asimilasi Orde Baru.
Warga Tionghoa diwajibkan memilih identitas budaya yang mencakup nama
dan kepercayaan pada 1966 oleh Orde Baru. Padahal sebelumnya, Soekarno
sempat menolak usulan itu karena identitas adalah hak pribadi tiap
individu yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
Tapi warga Tionghoa di film ini pun tidak bersih-bersih amat, soalnya
mereka memang melakukan bisnis ilegal sehingga jadi target aparat. Jika
diliat lebih jauh lagi, nyatanya pemerintahan Orde Baru juga digandoli
oleh lobi-lobi konglomerat Tionghoa. Yang paling kentara adalah Bob
Hasan yang membangun dinasti ekonomi lewat asosiasinya dengan Soeharto.
Maka sah saja kita bisa mempertanyakan, apakah si rubah itu kelompok
minoritas juga, dalam hal ini warga Tionghoa Indonesia?
Atau bisa jadi, TFETTM hanya fenomena rembesan dari struktur yang
masif. Soalnya, satu hal lainnya, dalam film ini Lucky menggambarkan
keluarga Tionghoa tetap menggunakan nama asli mereka, Aseng misalnya.
Representasi ini jadi cara Lucky menyodorkan rasialisme yang dilakukan
David ketika mengolok-ngolok nama Mandarin. Ini telah menjadi paradoks
dari agenda asimilasi Orde Baru.