Jumat, 25 Maret 2016

GRAVE TORTURE

GRAVE TORTURE


Dibuat tanpa dialog, jenazah pembunuh berantai ini disiksa oleh malaikat kubur sesaat setelah dikuburkan dalam liang kubur. Yang mengusik mata justru bukan siksa yang diterima jenazah ini tetapi anak si pembunuh yang secara tidak sengaja ikut terkubur bersama ayahnya dalam peti mati.
Begitulah sebagian kisah dari film pendek terbaru Joko Anwar berjudul Grave Torture yang pada 4 Oktober 2012 yang lalu dipublikasikan lewat kanal YouTube YOMYOMF. Film pendek horror Joko Anwar ini adalah bagian dari sebuah proyek antologi film pendek horror Silent Terror yang dibuat untuk menyambut Halloween dan bulan Oktober oleh YOMYOMF NETWORK (YouOffendMeYouOffendMyFamily).


Proyek film pendek ini secara khusus dinamai Silent Terror karena semua film pendek (empat) yang dibuat dalam antologi ini dibuat tanpa menggunakan dialog. Tiap film wajib menyertakan kisah yang terilhami dari mitos, cerita hantu lokal, atau tradisi kuno. Dan dalam film pendeknya kali ini Joko Anwar mengangkat cerita tentang siksa kubur, konsep yang terangkat dalam film karena mengingat cerita guru agama yang mengajarkan bahwa orang jahat akan disiksa oleh malaikat kubur setelah mati.

Tanggapan yang berbeda-beda muncul mengenai film Grave Torture ini. Sebagian besar terlihat terhibur saat membaca komentar-komentar dibawah postingan film. Namun ada juga yang mempertanyakan tentang riset yang dilakukan oleh Joko Anwar karena berbeda dengan kenyataan yang dipahami oleh sebagian orang. Di luar itu semua, film ini tetap layak untuk ditonton karena menyajikan horror yang “nyata-nyata” horror dan setelah itu baru kita lihat nanti bagaimana tanggapan anda.

 


Minggu, 20 Maret 2016

PK

PK


Tiba di bumi, alien (Amir Khan) seketika dirampok pakaiannya dan alat kendali yang bisa membawanya pulang. Tak tahu apapun tentang kebiasaan manusia, bahasa, pakaian atau kebohongan, alien dengan susah payah mencari alat kendalinya, dia cukup aneh dan kuno sehingga orang bertanya apakah dia ‘pee kay’ atau mabuk.
Suatu hari, ‘PK’ bertemu Jaggu (Aushka Sharma), seorang reporter TV yang membantunya. Bisakah mereka menemukan alat kendali PK, bahkan dengan biksu apasyi ji (Shukla)? Dan akankah PK dan Jaggu juga jatuh cinta? PK adalah film yang penuh filosofi. Mengambil tema ‘alien terdampar’ yang sudah lazim seperti film klasik ET, tapi bercerita secara seimbang dari mata alien yang kesepian- saat itu juga, membangkitkan cerita yang indah layaknya The Little Prince- sebagaimana narasi drama.
Dimulai dari rasa putus asa alien, PK mengungkap ketakutan dan kepalsuan manusia dalam sebuah kepercayaan. Ketika PK memutuskan berdoa untuk mencari alat kendalinya, dia bingung pada siapa dan bagaimana berdoa. PK mengungkap adegan-adegan tabu seperti praktek uang di kuil, tawar menawar kelapa dalam kekacauan di gereja. Mengungkap kepercayaan berubah menjadi benci. Pesan PK bermutu, diarahkan secara sensitif, sangat bagus.

Aamir Khan dan Anushka Sharma dalam 'PK' @fullmovie2k.com

Aamir Khan sebagai alien bermata besar kaget dengan kehidupan manusia, mirip Chaplin dari luar angkasa, disukai oleh Bhairao Singh (Sanjay Dutt sebagai cameo). Kesederhanaan PK kontras dengan kehidupan Jaggu yang rumit, patah hati setelah dia pikir pacarnya Sarfaraz(Sushant Singh Rajput) seorang Pakistan membuangnya dalam kotak coklat Belgia.
Tapasvi memperingatkan ayah Jaggu (Parikshet Sahani) bahwa pacar muslimnya akan mengkhianatinya- apakah PK akan membuktikan kalau pendapat itu salah? Sutradara Rajkumar Hirani menyajikan film komedi science fiction ini dengan cerita yang kompleks namun dikemas menarik. Antara Tuhan, penipu, cinta dan bom, ada beberapa alur di sini. Beberapa gangguan, dampak lainnya, seperti PK yang terpana dan bingung saat manusia bersembunyi ketika mereka bermasalah menjadikan kisahnya semakin membuat penonton larut dalam gaya satir film ini.



Rabu, 16 Maret 2016

MARYAM

      MARYAM
Film “Maryam” menceritakan bagaimana seorang pembantu rumah tangga bernama Maryam yang sedang hamil bekerja di salah satu rumah keluarga Katholik yang ditinggal sendirian untuk mengurus majikan laki-laki yang memiliki gangguan autis.
Majikannya meminta Maryam yang seorang Muslim dan tidak mengerti apa-apa tentang Natal dan prosesi misa untuk mau membawanya pergi merayakan Natal ke salah satu gereja mewah di Jakarta.
Dengan pikiran yang masih ragu dalam kondisi hamil, Maryam mencoba mengikuti keinginan majikannya tersebut. Setelah sampai di gereja dengan menggunakan bajaj terdapat gejolak batin di hati Maryam, namun dia tidak mungkin meninggalkan majikannya sendirian.



Majikan Maryam ikut berdoa dan merasakan suasana misa di dalam gereja, sementara Maryam mencoba mengikuti prosesi misa dengan hati yang berkecamuk antara keharusan membantu sang majikan dan ketidaktahuannya mengenai prosesi misa sendiri.
Akhirnya, prosesi misa dilalui Maryam bersama majikan dalam gereja tersebut, namun tidak sampai selesai karena Maryam dan majikannya keluar dan memutuskan untuk pulang.

Sabtu, 12 Maret 2016

THE LOOK OF SILENCE

THE LOOK OF SILENCE
Sinopsis
Melalui karya Joshua Oppenheimer yang memfilmkan para pelaku genosida di Indonesia, satu keluarga penyintas mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya. Adik bungsu korban bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya – sesuatu yang tak terbayangkan di negeri dengan para pembunuh yang masih berkuasa.

PERNYATAAN SUTRADARA

Film Jagal (The Act of Killing) memaparkan apa yang kita alami ketika kita membangun realitas sehari-hari di atas teror dan kebohongan. Film Senyap menjelajahi apa yang dirasakan oleh penyintas dalam realitas seperti itu. Membuat film mengenai genosida bagaikan berjalan di tengah medan ranjau penuh dengan pernyataan klise yang sebagian besarnya ditujukan untuk menciptakan protagonis heroik (kalau bukan tokoh suci), dan oleh karena itu menawarkan sebuah penghiburan bahwa, di dalam bencana moral akibat kekejian, kita semua tidaklah mirip dengan para pelaku kekejian itu. Tapi menampilkan para penyintas sesuci mungkin dalam rangka meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita adalah orang baik akan terlihat seperti memanfaatkan para penyintas untuk menipu diri kita sendiri. Hal seperti ini merendahkan pengalaman para penyintas, dan tidak menolong kita dalam memahami apa artinya menyintas dari sebuah kekejian, dan apa artinya menjalani hidup yang dihancurkan oleh kekerasan massal, dan dibungkam oleh teror. Pengetahuan navigasi yang diperlukan untuk menempuh medan ranjau klise tadi hanya bisa didapatkan dari menjelajahi kesenyapan itu sendiri.
Sebagai hasilnya, film Senyap, saya harap, menjadi sebuah puisi tentang kesenyapan yang lahir dari teror—sebuah puisi tentang pentingnya memecah kesenyapan itu, tetapi juga tentang trauma yang datang ketika kesenyapan itu dipecahkan. Mungkin film ini adalah sebuah monumen bagi kesenyapan—sebuah pengingat bahwa, walaupun kita ingin meneruskan hidup, memalingkan pandangan, dan memikirkan hal-hal lain, tak ada yang bisa mengembalikan keutuhan apa yang telah dirusak. Tak ada yang bisa menghidupkan kembali mereka yang telah mati. Kita harus berhenti, mengakui kehidupan yang telah dilumatkan, dan memaksa diri untuk mendengarkan kesenyapan yang menyusulnya.
– Joshua Oppenheimer

PERNYATAAN KO-SUTRADARA

Film Senyap, dan juga film sebelumnya, Jagal, adalah sebuah pengingat bahwa kebenaran belum lagi tuntas diungkapkan, keadilan belum lagi ditegakkan, permintaan maaf belum lagi dikatakan, korban belum direhabilitasi—apalagi mendapatkan rekompensasi atas segala yang dirampas dari mereka. Sesudah itu semua, sejarah yang diajarkan di sekolah masih bungkam mengenai kekejaman dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menimpa jutaan orang.
Film Senyap, bagi saya adalah gaung bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas, dan mereka yang tertindas. Saya berharap gemanya akan sanggup memperkuat suara-suara itu, karena di sela-sela kesenyapan itu juga ada banyak harapan.
Film Senyap menunjukkan betapa rekonsiliasi adalah sebuah jalan panjang, penuh rintangan, dan berat. Kami berharap pesan film Senyap ini mencerminkan optimisme kami: “Rekonsiliasi adalah jalan berat, bukan jalan yang tak mungkin.”
– Anonim



THA ACT OF KILLING

THA ACT OF KILLING

 











Jagal (bahasa Inggris: ''The Act of Killing'') adalah film dokumenter karya sutradara Amerika Serikat . Dokumenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966 memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik.
Film ini adalah hasil kerja sama Denmark-Britania Raya-Norwegia yang dipersembahkan oleh Final Cut for Real di Denmark, diproduseri Signe Byrge Sørensen, diko-sutradarai Anonim dan Christine Cynn, dan diproduseri eksekutif oleh Werner Herzog, Errol Morris, Joram ten Brink, dan Andre Singer. Ini adalah proyek Docwest dari Universitas Westminster.
Film Jagal memperoleh berbagai penghargaan, diantaranya Film Dokumenter Terbaik pada British Academy Film and Television Arts Awards 2013 dan nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Academy Awards ke-86. Sementara itu, film pendukung dari Jagal, berjudul Senyap ("The Look of Silence") diluncurkan pada 2014.

Kisah Anwar Congo, Adi Zulkadry, Herman Koto atau bahkan ilustrasi lainnya di Medan, Sumatera Utara tampak seperti dokumentasi dan kesaksian dari tokoh-tokoh yang dipilih dalam film tersebut. Terlepas dari tepat atau tidaknya penggambaran kisah jagal sepanjang film tersebut, menurut pandangan saya, negara tidak perlu memberikan respon karena film dokumenter sekalipun hanyalah satu sudut pandang yang berhasil direkam. Dalam kaitan ini, adalah sudut pandang atau kisah yang diingat dari tokoh yang dipilih sutradara. Andaikata ingatan tokoh yang dipilih dalam film tersebut valid dan benar terjadi, maka detail pembunuhan yang digambarkannya adalah kejahatan dirinya sendiri dan pengakuan yang dilakukannya melalui sebuah film adalah refleksi pribadi para tokoh yang diwawancarai tersebut. Detail kekejaman yang digambarkan tokoh-tokoh dalam film tersebut adalah khas perilaku jahat dari sang pelaku sendiri. Satu hal penting yang harus kita sadari bersama adalah bahwa Bangsa Indonesia tidak memiliki mimpi buruk sebagaimana pelaku kekejaman dalam film tersebut. Mengapa kita tidak memiliki mimpi buruk sebagaimana pelaku kekejaman dalam film tersebut, karena mayoritas bangsa Indonesia sama sekali tidak terlibat dengan berbagai peristiwa itu dan hal itu menjadi kurang penting manakala dikaitkan dengan kepentingan bangsa. Namun bila dikaitkan dengan kepentingan menengakan keadilan dan rasa kemanusiaan, barangkali upaya rekonsiliasi kebenaran masih dapat diteruskan dalam rangka pembelajaran generasi muda Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. 
Cerita satu sisi dari salah seseorang atau beberapa orang yang mengaku sebagai pelaku kejahatan di masa lalu yang dikemas dan didramatisir ala akting theatrikal memang menarik dan mungkin jarang dilakukan, sehingga film tersebut mendapatkan penghargaan. Hal ini bukan saja karena faktor keunikan kisahnya, melainkan juga karena detail kekejaman yang sulit diterima akal mayoritas bangsa Indonesia. Satu hal yang janggal adalah sisi-sisi propaganda yang menggambarkan ultranasionalis ala Nazi seolah tidak ada rasa bersalah atas nama Pancasila yang direpresentasikan dengan Pemuda Pancasila.


The Sun, The Moon & The Hurricane

The Sun, The Moon & The Hurricane

 

Sinopsis

Kisah perjalanan seorang pria yang menemukan dan kehilangan kebahagiaan, kasih sayang dan makna hidup. Bagaimana ia menyaksikan orang-orang di sekitarnya berubah, bagaimana ia sendiri pun berubah, hanya untuk beradaptasi, untuk bertahan. Bagaimana semua kejadian dalam hidupnya dan orang-orang yang ia temui membentuk kehidupannya dan takdirnya.
Ketika Rain (William Tjokro) berusia 32 tahun dan menengok ulang hidupnya, ia ingat bahwa semuanya berawal dari hari saat si misterius Kris (Natalius Chendana) membelanya saat ia dianiaya oleh teman-teman SMA-nya. Kris menuntut persahabatan, mendesak agar menginap, dan memutus teman-teman lainnya, meski ia sendiri sering keluar malam dengan gadis-gadis lain. Rain yang sadar dengan homoseksualitas dirinya, tidak bisa paham. Dan ia merasa terhempas, ketika tiba-tiga Kris menghilang.
Tapi, ia bisa mengatasi hal itu, dan mendapat pengalaman seksual ketika berkunjung ke Bangkok. Beberapa tahun kemudian, ia menerima undangan untuk mengunjungi Kris, yang sudah menikah dan tinggal di Bali.

Produser :         Andri Cung, Paul Agusta
Sutradara :      Andri Cung
Penulis :        Andri Cung
Pemeran :    William Tjokro, Cornelius Sunny, Natalius Chendana, Gesata Stella , Paul Agusta
Format syuting HD
Warna Warna
Bahasa utama Indonesia
Bahasa lainnya Inggris


Jumat, 11 Maret 2016

THE FOX EXPLOITS THE TIGER'S MIGHT

THE FOX EXPLOITS THE TIGER'S MIGHT













Saat Orde Baru berkuasa, banyak orang untuk diam. Beberapa memilih begitu beberapa lagi karena terpaksa. Keberdiaman tersebut sejatinya menandai represi. Salah satu represi itu juga tidak terkecuali mempenetrasi tubuh dan seksualitas seperti yang disuguhkan film pendek garapan Lucky Kuswandi berjudul The Fox Exploits The Tiger’s Might. Film ini diputar perdana di Film Musik Makan 2015 dan selama bulan April  tayang di progam #KolektifJakarta: Mengalami Kemanusiaan.
Di sana Lucky mengomentari hak yang mendasar juga sensitif: relasi kekuasaan dan seksualitas dari kacamata etnis minoritas di kala Orde Baru. Aseng adalah remaja SMP berdarah Tionghoa. Ia tinggal bersama kakak perempuan dan ibunya di sebuah kota kecil yang dekat dengan markas militer. Keluarga Aseng membuka warung yang juga menyediakan miras selundupan. Tak jarang, keluarga Aseng perlu memberikan ‘salam tempel’ khusus untuk aparat agar bisnisnya tetap berjalan. Sementara itu, Aseng sendiri berteman dengan David, anak pejabat militer yang bossy. Keduanya tengah memasuki masa di mana libido tengah bergejolak juga lingkungan yang tak kalah beriak.

Dilihat dari judul, The Fox Exploits The Tiger’s Might atau hú jiǎ hǔ wēi merupakan penamaan yang pas untuk itu. Judul tersebut diambil dari kisah terkenal masyarakat Mandarin. Jika diartikan bebas; kelompok yang mem-bully atau menindas orang lain ketika mereka berasosiasi dengan seseorang yang kedudukan yang lebih kuat. Beking yang membawa beceng, ah betapa menjijikkannya itu.
Dengan latar pemerintahan Orde Baru, TFETTM mampu bermain-main dengan makna kekuasaan secara ‘mengganggu’. Lihat saja jari jemari memperagakan bentuk pistol, yang diikuti penggambaran repulsif aksi felatio. Seolah-olah penjilat kekuasaan hadir di mana-mana. Selanjutnya pistol sendiri berperan cukup penting, sebagai bentuk maskulinitas serta pemegang kuasa.

Seksualitas pun tidak hanya tentang hasrat atau pleasure namun juga bagian pernyataan politis dan kebebasan seseorang. Sebabnya, Lucky membawa penonton untuk bisa memaknai sexual divesity. Lewat karakter Aseng yang naif,  ia melihat dan dekat dengan beragam bentuk relasi seksual. Ibunya yang paruh baya mendapat sexual harrastment oleh ajudan muda Ayah David,itu sedikit banyak menyiratkan oedipus complex. Ada lagi ketika Aseng mengintip kakaknya berasyik masyuk dengan sang pacar di kamar, yang mendeskripsikan heterosexual. Namun dalam hubungan hetero itu, si pria terlihat mengeksploitasi si perempuan dengan menyuruhnya sesuai kehendak. Lalu, Aseng juga menatap lekat para tentara melakukan push up di bawah komando. Ketiga gambaran tersebut menandakan tubuh-tubuh diam yang diatur atau disiplinkan lewat relasi kekuasaan. Tidak dipungkiri, ada superioritas dan inferioritas di dalam sana.

Di saat bersamaan, Aseng melihat seksualitas dengan pemahamannya sendiri. Wajahnya tampak memendam. Ia merasakan banyak represif dan hal menjijikan. Usianya yang masih di bawah umur meredamnya mengajukan pertanyaan soal seks. Seperti yang kita tahu, remaja seusianya sering dijauhkan dari hal berbau seksualitas. Membicarakan pun mengetahuinya bisa menjadi dosa dan hukuman. Sekolah sebagai perpanjangan tangan negara tidak terlepas dalam hal ini. Seragam sekolah yang kerap terlihat dikenakan Aseng dan David tidak melulu sebagai simbol karakteristik namun juga menyiratkan desain normalisasi itu. Salah satu faktor ini membuat Aseng menjadi asing dengan bentuk seksualitas di luar yang ditentukan padahal hal tersebut ada di kesehariannya.
Jauh sebelumnya, Foucault pernah menjelaskan keadaan seksualitas di era Victoria yang harus direstriksi seperti tidak boleh dibicarakan bahkan dipikirkan demi terciptanya masyarakat puritan yang utuh. Alhasil, letupan wacana soal seks yang berasal dari arus bawah tak dapat terhindarkan, menyebabkan identitas seksual menyeruak ke hadapan publik.

Begitu pula dengan Aseng di penghujung film, semakin ia ditekan dan diatur oleh David, besar pula kemungkinan menyongsong kebebasan. Karena memang tiap laku kekuasaan selalu menghadirkan resistensi yang sama kuat. Dilihat dari segi Male Homosocial Desire-nya Sedgwick, Aseng dan David menyimpan kesamaan interest, yang paling kuat adalah video arcade (kontrol game ini seperti Phallus) dan foto Eva Arnaz. Keduanya membagi pleasure. Sampai satu momen Aseng melepaskan confession yang kemudian menjalarkan homophobia oleh David. Ia mengumpati Aseng tapi tak berapa lama menikmati desire yang tumbuh. Pertanyaannya mungkin, apa perlu coercive power untuk memastikannya?

Lucky menggambarkan hubungan Aseng dan David tidak secara tersurat. Ia sengaja membuatnya menjadi samar-samar dan nyatanya kejelasan pun tidak terlalu dibutuhkan. Artinya ending TFETTM nampak mengundang penonton untuk mencerna perasaan yang hidup di dalam layar dan juga menumbuhkan pertanyaan menggantung yang tidak pernah selesai. Akhirnya tarik menarik persoalan ini ditutup dengan dua remaja yang bergulat dan tetap bergulat tanpa tujuan di tanah lapang.
Siapa si Rubah Itu?

Si rubah bisa saja orang-orang seperti Ajudan Ayah David atau David sendiri yang meneksploitasi asosiasinya dengan kekuasaan militer Orde Baru demi mempencundangi kelas yang berada di bawah selangkangannya. Nah hal ini menarik ketika dibenturkan dengan agenda asimilasi Orde Baru. Warga Tionghoa diwajibkan memilih identitas budaya yang mencakup nama dan kepercayaan pada 1966 oleh Orde Baru. Padahal sebelumnya, Soekarno sempat menolak usulan itu karena identitas adalah hak pribadi tiap individu yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

Tapi warga Tionghoa di film ini pun tidak bersih-bersih amat, soalnya mereka memang melakukan bisnis ilegal sehingga jadi target aparat. Jika diliat lebih jauh lagi, nyatanya pemerintahan Orde Baru juga digandoli oleh lobi-lobi konglomerat Tionghoa. Yang paling kentara adalah Bob Hasan yang membangun dinasti ekonomi lewat asosiasinya dengan Soeharto. Maka sah saja kita bisa mempertanyakan, apakah si rubah itu kelompok minoritas juga, dalam hal ini warga Tionghoa Indonesia?
Atau bisa jadi, TFETTM hanya fenomena rembesan dari struktur yang masif. Soalnya, satu hal lainnya, dalam film ini Lucky menggambarkan keluarga Tionghoa tetap menggunakan nama asli mereka, Aseng misalnya. Representasi ini jadi cara Lucky menyodorkan rasialisme yang dilakukan David ketika mengolok-ngolok nama Mandarin. Ini telah menjadi paradoks dari agenda asimilasi Orde Baru.

Kamis, 10 Maret 2016

SITI


 SITI



Film "Siti" merupakan film yang berasal dari Indonesia dengan genre Drama. Film Siti 2016 ini disutradarai dan naskahnya diskenario oleh Eddie Cahyono serta Film ini diproduseri oleh Ifa Isfansyah. Sederet artis top berperan dalam pmbuatan film Siti ini seperti Sekar Sari, Delia Nuswantoro, Chelsy Bettido, dan Ibnu Widodo. Mulai tanggal 28 Januari 2016 film ini akan ditayangkan dibioskop bioskop Indonesia.


Sinopsis Film Siti (2016)

Film Drama "Siti" bercerita tentang kehidupan sehari hari dari seorang perempuan yang berusia 24 tahun yang bernama Siti. Siti ialah seorang Ibu Muda, ia harus mengurus ibu mertuanya, bernama Darmi, anaknya Bagas dan suaminya Bagus.

Bagus menderita penyakit lumpuh setelah setahun lalu mengalami sebuah kecelakaan ketika melaut. padahal Kapalnya masih baru dan dibeli dengan uang hasil pinjaman. Siti harus bisa berjuang didalam hidupnya, menghidupi mereka dan membayar hutang kepada pak Karyo.

Keadaan makin terjepit, Siti bekerja dari Siang dan malam. Di siang hari Siti bekerja sebagai penjual peyek Jingking di daerah parangritis. Dan di malam hari Siti bekerja sebagai pemandu karaoke untuk menambah penghasilannya. Bagus tidak mau berbicara lagi dengan Siti dikarenakan pekerjaan Siti yang ingin menjadi pemandu Karaoke.

Siti menjadi frustasi, seorang polisi bernama Gatot yang dikenal Siti di tempat karaoke menyukai Siti sudah sejak lama. Gatot menyuruh Siti untuk meninggalkan suaminya dan bersedia menikah dengannya. Keadaan ini membuat Siti berada di dalam kebimbangan, namun dia harus memilih.

Review Film Siti (2016)

Film terbaru Indonesia "Siti" menampilkan cerita yang umumnya dititikberatkan kepada Siti, seorang perempuan yang hidupnya harus berjuang menghidupi keluarganya dan membayar hutang. Siti mengalami kebimbangan juga karena harus memilih Bagus atau Karyo. Hidup Siti terasa hampa di tengah kebimbangan namun dia harus bisa menghadapinya.

Detail Cast and Crew Film Siti (2016)

Genre : Drama
Produser : Ifa Isfansyah
Sutradara : Eddie Cahyono
Penulis Skenario : Eddie Cahyono
Pemain Film :

Sekar Sari
Delia Nuswantoro
Chelsy Bettido
Ibnu Widodo
Titi Dibyo
Haydar Saliz

Tanggal Rilis : 28 Januari 2016
Rumah Produksi : Fourcolours Films
MPAA : Remaja (R 13+)
Durasi : 88 Menit
Negara : Indonesia





BABI BUTA YANG INGIN TERBANG


BABI BUTA YANG INGIN TERBANG

 

Dalam " The Blind Pig Who Wants to Fly " Anda akan menemukan cerita tentang identitas bingung , tidak tahu siapa Anda , kecemasan , ketidakpastian , pengalaman yang hilang , mengatakan dengan rasa humor . Seorang ayah yang putus asa untuk memenangkan lotre green card , sehingga keluarga bisa pindah ke Amerika . Juara bulutangkis ex - nasional , yang suaminya meninggalkan dirinya seorang perempuan Jawa . Seorang anak Menado yang terus-menerus mendapat dipukuli karena semua orang berpikir bahwa ia adalah Cina. Seorang gadis muda yang percaya bahwa petasan Cina mengusir hantu . Diatur dalam ketegangan sosial dan rasial kontemporer Indonesia perkotaan , cerita mengikuti delapan karakter dalam perjalanan masuk akal mereka untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat dengan harapan untuk hidup lebih baik . Seperti mosaik , film ini dibangun dari potongan hancur kaca berwarna . Halus , rapuh , indah .

Babi Buta yang Ingin Terbang menawarkan gambar kaleidoskopik seluruh pengalaman Linda , dan orang-orang di sekelilingnya , semua dengan agenda obsesif mereka sendiri . Sebuah visi rapuh tetapi panorama dari masyarakat yang tidak nyaman dengan dirinya sendiri - dan harapan yang tidak pernah benar-benar terpenuhi akan


nay

Perempuan dan problematika tubuhnya adalah salah satu isu yang dari dulu hingga kini sudah sering diangkat namun masih saja belum diprioritaskan baik oleh negara, masyarakat, maupun perempuannya sendiri. Berita tentang tindak kekerasan dalam rumah tangga maupun pelecehan seksual sebagai ikhwal kejahatan yang harusnya serius ditangani, berakhir sebatas komoditi. Bergaung di acara-acara gosip televisi. Dibicarakan sambil lalu di café-café ternama hingga kedai kopi. Berhenti sebagai laporan di meja polisi. Dan pada akhirnya, hukum tak juga mampu melindungi.
Membuktikan ikhwal perkosaan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Korban yang mengalami trauma sering kali tidak segera melaporkan. Ada banyak tekanan dari orang terdekat maupun diri sendiri akibat banyaknya kasus pelecehan seksual yang berakhir dengan hasil jauh dari memuaskan. Moral korban sebagai perempuan diperta

nyakan. Cara berpakaian dipersoalkan. Akibatnya lebih banyak korban memilih tutup mulut. Korban memilih hak asasinya tercerabut dan hidup dengan trauma yang bisa jadi seumur hidup tak akan pernah surut.
Film Nay memang mengangkat ikhwal perempuan. Sebab sebagai seorang perempuan, ibu dari dua anak perempuan dan eyang putri dari seorang cucu perempuan, saya merasa wajib untuk menyampaikan. Namun pada kenyataannya, tidaklah mudah mengangkat isu semacam ini ke depan para investor bisnis yang punya kepentingan lain di luar berkesenian. Oleh sebab itu, besar harapan saya kepada crowd funding ini, agar apa yang saya ingin sampaikan bisa terealisasikan. Dan dengan segala kerendahan hati, mewakili segenap tim yang terlibat dalam produksi ini, terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan.
Sinopsis
Setelah pemeriksaan di Rumah Sakit, NAY mengetahui jika janin yang dikandungnya sudah berumur 14 minggu. Ia pun berniat berbagi kabar kepada pacarnya BEN, yang ternyata lebih mementingkan Ibunya ketimbang persoalan yang butuh mendapatkan solusi segera. Hal ini membuat Nay merasa sulit untuk menentukan tindakan apa yang terbaik bagi janin yang dikandungnya. Apalagi, Nay menerima telepon dari seorang PRODUSER Film yang menyatakan jika Nay terpilih sebagai Pemeran Utama.
Dalam ketidak-pastian, AYU Manager Nay, menelepon. Nay mengutarakan apa yang sedang terjadi pada dirinya. AYU yang sepertinya mendukung apa pun keputusan Nay, belakangan ketahuan hanya mementingkan karier belaka.
Dalam sebuah perjalanan di atas mobil, Nay harus menghadapi berbagai macam fakta dan ragam sifat manusia yang sebenarnya, BEN, AYU, MAMI BEN dan PRAM seorang laki-laki yang Nay pikir bisa diandalkan.
Nay pun mesti berhadapan kembali dengan sejarah kelam masa lalunya Figur AYAH yang tak pernah dikenalnya. Juga figur IBU yang pernah mengecewakannya.

Kamis, 03 Maret 2016

A Copy of My Mind

 Sutradara film, Joko Anwar rupanya telah menyiapkan film terbarunya 'A Copy of My Mind' selain yang disensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF).
Joko mengatakan, pada film yang akan tayang pada Februari mendatang telah dibuat dalam 2 versi, yakni versi yang telah disensor untuk tayang di Indonesia dan tidak disensor untuk tayang di festival Internasional.
"Kita ada versi Indonesia. Untuk audience sini kan kita nggak bisa menampilkan yang sangat seksi. Jadi betul-betul untuk pangsa Indonesia," ujar Joko, ketika ditemui di kawasan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/1/2016) malam.
Joko menuturkan, meskipun film untuk tayang disensor mengalami sensor beberapa adegan. Namun, ia mengaku tidak mengganggu jalan cerita pada film tersebut.
"Versi sensor nggak menganggu jalannya cerita. Cuma omongan doang, kalau gambar sih nggak. Kata-katanya kasar dan pasti nggak lolos sensor. Kita memang sudah persiapkan dari awal, karena kalau edit lagi biayanya mahal," katanya.
Joko juga menambahkan, pada film bergenre drama romantis kali ini, ia menggunakan latar belakang situasi kehidupan politik di Indonesia. Menurutnya, kehidupan masyarakat sangat dekat dengan politik.
Film arahan sutradara Joko Anwar itu bercerita tentang seorang perempuan pekerja salon (Tara Basro) dan seorang laki-laki (Chicco Jerikho) pembuat alih bahasa untuk DVD bajakan bertemu dan jatuh cinta.
rencananya segera tayang pada 11 Februari 2016 di seluruh bioskop Indonesia.
 Jadi buruan tonton dan apresiasi film-film indonesia.Trimakasih

Sumber : Tribunnews.com