1
Suatu siang di sebuah hutan. Kamera bergerak
ke sana ke mari menampilkan pemandangan hutan, lengkap dengan
satwa-satwa kecil yang menghuninya. Segalanya terasa sejuk dan nyaman
sampai tiba-tiba muncul sebuah tangan dari tanah. Perkenalkan, ini John
Evans (
Rio Dewanto).
Ia baru saja dikubur hidup-hidup, tanpa tahu siapa pelakunya, tak tahu
juga kenapa ia ditimpa malapetaka tersebut. Telepon genggamnya, konon
teman setia setiap manusia modern, juga tak banyak membantu. Daftar
kontaknya sudah dihapus, dan ia lupa namanya sendiri ketika ditanya oleh
operator
emergency call.
Sebuah skenario
survival pun
tersajikan. Dalam sebuah pondok yang John temukan (setelah berlari tak
tentu arah), ada sebuah rekaman video dan mayat bersimbah darah. Dari
sini John mengetahui bahwa istrinya telah mati ditikam seseorang
berkostum dokter bedah. Melalui foto keluarga di dompetnya, John paham
kalau kedua anaknya (beserta si pembunuh) masih berkeliaran di hutan.
Di sinilah kecakapan
Joko Anwar
sebagai peramu cerita ditantang. Ada satu plot pelik yang dihadapi
John, ketika segala yang penting baginya dipertaruhkan. Namun, penonton
sendiri tak tahu siapa John ini dan hampir tak ada alasan bagi penonton
untuk bersimpati padanya. Betul, kita tahu istrinya baru saja dibunuh
dan kedua anaknya masih berkeliaran di hutan, tapi dengan John amnesia,
apakah kita bisa percaya begitu saja kalau mereka benar-benar
keluarganya? Apa ia memang benar-benar meratap untuk keluarganya? Atau
jangan-jangan ia hanya sekadar takut mati di tangan pembunuh keji ini?
Apa juga yang si pembunuh cari dari John yang hampir penonton tak
ketahui informasinya ini?
Atas misteri-misteri ini, suatu hal yang lumrah bagi film
thriller macam
Modus Anomali,
pujian patut dialamatkan pada departemen kamera yang digawangi oleh
Gunnar Nimpuno.
Permainan kamera yang mereka terapkan membuat penonton mampu melupakan
pertanyaan-pertanyaan seputar motivasi protagonis tadi, dan ikut
tenggelam dalam ketegangan petualangan John. Kamera
handheld diposisikan
begitu dekat mengikuti protagonis, benar-benar lengket pada gestur
John, meminimkan ruang pandang di sekitarnya. Dengan begini penonton
diposisikan sama dengan John: sama-sama tidak tahu lingkungan
sekitarnya. Dalam latar malam nyaris tak berlampu yang mendominasi film,
yang praktis memendekkan jarak pandang, John (dan penonton) hanya bisa
menerka-nerka dari suara sekitar. Suatu atmosfer paranoid pun terbangun.
Siapa yang sedang berbicara di balik tembok itu? Dari arah mana si
pembunuh akan datang menerkam?
Pembangunan atmosfer yang baik ini
diimbangi dengan perkembangan karakter yang terstruktur pula. Seperti
yang kita ketahui, manusia tak semerta-merta menerima kehilangan. Ada
satu proses pembelajaran tersendiri, semacam formulasi perasaan, dari
penyangkalan, amarah, penyesalan, hingga berakhir di penerimaan. Proses
ini yang dilalui John Evans dalam
Modus Anomali, mulai dari dia
yang meratap saat melihat foto keluarga di dompetnya, dia yang kembali
lagi ke pondok setelah lari menghindari si pembunuh untuk menyelimuti
mayat istrinya, hingga dia yang marah ketika si pembunuh menyerangnya
dan menantangnya secara terbuka. Ada dimensi emosional yang kemudian
menyeruak dalam pertarungan John versus si pembunuh. Ini bukan
pertarungan biasa, bukan parade visual belaka. Ini penebusan John atas
kegagalannya sebagai kepala keluarga.
2
Satu hal yang mencolok dalam
Modus Anomali adalah
penggunaan bahasa Inggris. Ini berkaitan dengan penggunaan dunia
antah-berantah sebagai latar cerita film-film Joko Anwar, keputusan
artistik yang konstan ia terapkan pasca
Janji Joni.
Kala bertutur dengan kosmetik film
noir
Amerika, mulai dari jas dan mantel yang dikenakan hingga sigaret dan
senapan yang dibawa para tokoh. Lokasi ceritanya sendiri menyerupai ibu
kota zaman dahulu, walau tak ada elemen dalam film yang secara gamblang
menyebutkan bahwa cerita terjadi di Indonesia.
Pintu Terlarang hadir
dengan imaji khas bangsawan Eropa, di mana pameran, jamuan makan malam,
dan gedung-gedung berpilar menjadi pemandangan lumrah. Bahasa yang
dipakai tetaplah bahasa Indonesia, namun tak menjadi jaminan bahwa
cerita film terjadi di nusantara.
Absensi kode kultural yang
spesifik memungkinkan Joko Anwar melakukan apa pun sesuai kebutuhan
ceritanya. Berarti penggunaan bahasa Inggris dalam
Modus Anomali
sah-sah saja. Hutan yang kita saksikan terlalu generik (kecuali kita
mau repot-repot mengidentifikasi jenis flora dan fauna di hutan itu).
Cerita
Modus Anomali bisa terjadi di hutan mana pun, tanpa ada
ikatan geografis maupun sosial-kultural, yang berarti juga penggunaan
bahasa Inggris sebenarnya sama sahnya dengan penggunaan bahasa mana pun,
termasuk bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Inggris dalam
Modus Anomali oleh karenanya terasa seperti
gimmick belaka.
Tidak ada tuntutan ke arah sana dan masih banyak pilihan lain yang
tersedia. Apalagi pembuat film mengkhianati semesta rekaannya sendiri,
ketika di pertengahan film John menyalakan radio mobil dan terdengar
lagu
Bogor Biru karya Sore yang notabene berbahasa Indonesia. Ada inkonsistensi di sini. Bagaimana jadinya apabila
Modus Anomali dieksekusi sepenuhnya dalam bahasa Indonesia?
Satu
hal yang pasti Rio Dewanto akan terlihat lebih natural memerankan John
Evans. Sepanjang film, kata-kata yang jelas terdengar dari mulutnya
hanyalah sumpah serapah (yang semuanya berawalan dengan huruf F).
Sungguh tidak variatif dan membatasi pendalaman tokoh Rio Dewanto.
Begitu juga dengan pemeran-pemeran lainnya, terutama kedua anak John
(yang mendapat porsi yang lumayan besar dalam film). Semuanya terlihat
seperti berusaha melafalkan dialognya dengan rapi, ketimbang masuk ke
tokoh-tokoh yang harus mereka perankan.
3
Fragmen
tulisan ini akan menjelajahi wilayah-wilayah cerita yang konon
seharusnya dirahasiakan, sebuah tindakan yang disebut banyak orang
sebagai
spoiler. Bagi yang belum menonton, mohon berhenti
membaca dan tonton filmnya terlebih dahulu. Bagi yang sudah, mari
berpetualang lebih jauh menilik
Modus Anomali.
Sebagai sebuah film
thriller, kekuatan
Modus Anomali terletak
pada struktur naratifnya yang rancak nan simetris. Segalanya terhitung.
Distribusi informasi yang diterapkan Joko Anwar begitu irit di
pertengahan awal film, baru kemudian dibuka satu per satu menjelang
akhir film. Pemantiknya terletak pada
twist di pertengahan
film. Melalui sejumlah trik naratif, terbongkarlah fakta bahwa
sebenarnya John Evans sendiri yang berada di balik semua ini. John
mengincar keluarga yang berlibur di hutan, membunuh orang tua dari
keluarga tersebut, dan menantang anak-anaknya untuk mengejar dirinya.
John kemudian mengubur dirinya sendiri, menyuntik dirinya dengan cairan
medis, yang membuatnya pingsan dan terbangun amnesia. Dengan begini, dia
berpikir seakan-akan dia sedang bertarung dengan seseorang yang
membunuh keluarganya.
Ada perubahan visual yang menarik ketika
twist ini
terjadi. Kamera yang tadinya begitu aktif bergerak (dan sangat dekat
dengan protagonis) di pertengahan film mendadak bergerak jauh lebih
mulus (dan lebih berjarak dengan protagonis). Ini sama dengan muka datar
John Evans ketika ia mengeksekusi keluarga incarannya. Pergerakan
kamera sama tenangnya dengan cara John mempersiapkan diri untuk
menjalani permainannya, sama kalemnya dengan suara John menelepon
istrinya yang sebenarnya di luar hutan sana, memberitahukan kalau ia
tidak bisa pulang segera karena masih ada "urusan".
Kalau kita mau terima struktur cerita
Modus Anomali begitu saja dan sedikit bermain-main dalam tafsir, kita akan mendapati dua kemungkinan yang menarik. Pertama,
Modus Anomali bisa
jadi sedang bicara soal kemanusiaan yang sudah begitu mati rasa,
sehingga tindakan membunuh bisa menjadi begitu berjarak bagi John Evans.
Pergerakan kamera yang mendadak tenang dan muka John yang begitu datar
menjadi pertanda kalau dia sudah terbiasa melakukan permainan sadis ini.
Cerita film yang berpindah dari satu keluarga ke keluarga menyiratkan
kalau tindakan ini siklikal dan akan berulang terus. Membunuh orang
tanpa merasa apa pun bisa jadi modus anomali yang dimaksud oleh judul
film ini.
Kedua,
Modus Anomali mungkin bercerita tentang
proses rehabilitasi seorang kepala keluarga yang gagal. Tafsir ini
membingkai John sebagai seorang bapak yang kehilangan keluarganya
(karena hal-hal yang tak terjelaskan, tentunya). Tindakannya
menghancurkan keluarga-keluarga lain menjadi
via dolorosa yang
ia harus tempuh berkali-kali sebagai bentuk penyesalan. Ia harus
terus-menerus menghadapi fakta akan kegagalannya, semacam proses
penyembuhan diri untuk melawan trauma. Tafsir ini terbersit karena
kontak John dengan istri aslinya terjadi lewat suara percakapan di
telepon, dan satu-satunya bukti visual akan keberadaan keluarganya
adalah sebuah foto di mobil. Siapa yang bisa menjamin kalau percakapan
itu memang-memang benar terjadi? Ada kemungkinan juga bukan kalau
percakapan di telepon itu hanyalah rekaman, yang John selalu mainkan
setelah beraksi?
Kalau kita mau mempertanyakan lebih lanjut,
Modus Anomali hanya
akan terlihat sebagai deskripsi suatu kebiasaan menyimpang yang
dikerjakan rapi secara teknis, namun tidak dalam penyusunan elemen
cerita. Siapa yang bisa menjamin John akan selalu menemukan pondok
tempat korbannya dibantai setelah ia bangkit dari kubur? Ia amnesia, tak
tahu apa-apa, dan berlari tak tentu arah. Jam-jam weker yang diletakkan
di sejumlah titik di hutan, yang diniatkan sebagai petunjuk, terlihat
baru berbunyi malam dan pagi sekali. Ada jeda waktu yang signifikan bagi
John untuk tersesat ke pojok hutan lain, jauh dari lokasi permainannya,
dan hilang selamanya. Permainan dalam
Modus Anomali sungguh
tidak matematis, kalau tidak mau disebut terlalu mengandalkan kebetulan,
untuk benar-benar dilaksanakan. Dua tafsir di atas praktis hanyalah
pembacaan yang berlebihan saja.
Selain itu, ada apa sebenarnya di
balik permainan pelik yang dilakukan John Evans? Kelainan psikis kah?
Sekadar hobi saja kah? Tidak ada yang tahu, dan narasi film memang tidak
berusaha untuk mengajukan pernyataan lebih soal itu. Ia hanya berusaha
mendeskripsikan. Ketiadaan kode kultural yang spesifik (bahkan tak
konsisten dalam penggunaan bahasa) menjadikan cerita
Modus Anomali tidak merujuk ke mana-mana, kecuali pada dirinya sendiri.
Singkat kata,
Modus Anomali adalah
sebuah cerita yang disajikan dalam wadah tertutup, yang sangat unggul
dalam pengerjaan teknis dan eksplorasi gaya sinematiknya. Tidak lebih,
tidak kurang
Sumber :
http://filmindonesia.or.id/movie/review/rev4f97ecef446cc_diri-yang-anomali-dan-teka-teki-joko-anwar#.V01FXHpiZ1c