
Setelah Inception, The Prestige, dan Sherlock BBC, akhirnya gue nemu satu lagi karya sinema yang gue bilang bagus bagus bagus bagus bagus banget, tanpa ‘tapi’. Kali ini adalah film animasi dari Jepang yang memang udah populer dan legendaris banget, Spirited Away garapan Studio Ghibli. Sebelumnya gue pernah ngereview juga keluaran Studio Ghibli yang lain, The Grave of The Fireflies. Spirited Away dirilis tahun 2001 dan memenangkan penghargaan Academy Awards untuk kategori Film Animasi Terbaik. Disutradarai Hayao Miyazaki yang memang udah terkenal dengan karya-karya animasinya.
Bercerita tentang Chihiro gadis kecil yang tersesat ke dunia roh. Ia bertualang untuk menyelamatkan kedua orang tuanya, dibantu oleh Haku. Chihiro harus membuat kontrak dengan Yubaba untuk bekerja di onsen miliknya selama mencari cara menyelamatkan orang tuanya. Selama berada di dunia roh, Chihiro banyak menemukan hal aneh dan menyita perhatiannya. Di onsen, dia berhasil menjadi salah satu pelayan favorit setelah berhasil menangani Dewa Sungai, dibantu dengan No Face–arwah tanpa muka. Dewa Sungai memberi Chihiro sebutir herbal cake. Ketika No Face membuat masalah di onsen, Chihiro berhadapan dengan Haku dalam bentuk naga yang terluka. Ia membawanya kepada Kamaji, pengurus onsen, dan memberi Haku sepotong herbal cake. Chihiro tahu Haku terluka karena diminta Yubaba untuk mencuri sesuatu dari kembarannya, Zeniba. Setelah benda tersebut didapatkan Chihiro, ia pun mengembalikannya kepada Zeniba agar Haku bisa selamat. Bersama Chihiro ikut juga No Face, si bayi besar–Boh, dan burung berkepala nenek-nenek–tapi, si bayi udah berubah jadi tikus gemuk, sementara burung berkepala nenek-nenek berubah jadi burung kecil. Yubaba yang kehilangan bayinya pun menyuruh Haku untuk mencari. Haku mengajukan syarat bahwa dia akan mengembalikan si bayi, setelahnya Babajo harus membiarkan Chihiro dan kedua orang tuanya pulang ke dunia manusia. Haku bersama Chihiro serta bayi dan burung kembali ke onsen dengan selamat. Yubaba menyuruh Chihiro untuk menentukan babi mana yang orang tuanya, tetapi Chihiro tahu bahwa orang tuanya tidak ada di antara babi yang ada di situ. Maka, kontrak Yubaba dan Chihiro pun pecah. Haku mengantar Chihiro sampai perbatasan, mereka saling berjanji untuk bertemu lagi.
Spirited Away adalah cerita yang betul-betul indah. Bukan hanya dari segi kisah, karakterisasi, alur, dan plot, grafis dan musik latarnya juga menjadi salah satu komponen yang benar-benar membangun film ini menjadi sesuatu yang istimewa. Yup, istimewa, kayaknya kata itu yang paling pantas disematkan untuk film ini.
Alurnya yang nggak terlalu cepat atau lambat–pas dengan pokoknya, tahu-tahu menghanyutkan aja ke dalam ceritanya. Gue jadi selalu ingin tahu apa yang terjadi kepada Chihiro selanjutnya. Sikap pemberani dan ingin tahu Chihiro membuat gue menyenangi banget karakternya. Tingkahnya yang kekanak-kanakan, ketakutan-ketakutannya, sikap loyalnya, semua terasa pas banget. Pokoknya lakukan apa yang terbaik yang bisa dilakukan, nggak perlu banyak mikir ini dan itu–begitulah Chihiro.
Bukan hanya karakter Chihiro yang menarik, tetapi karakter-karakter pendukung yang lain pun, seperti Haku, Rin, No Face, Kamaji, dan lain-lain… semuanya gue suka. Bahkan si bayi besar nyebelin itu, akhirnya pun mendapat simpati dari gue. Setiap karakter punya cerita, setiap karakter mendapatkan screen time yang cukup, dan setiap karakter mendapatkan akhir yang pantas bagi mereka.
Negeri roh yang ada di dalam Spirited Away pun dibangun dengan sangat menarik. Analogi babi rakus, menjadi salah satu favorit gue. Selain, bentuk-bentuk arwah yang aneh dan ya aneh, benar-benar menggelitik rasa ingin tahu. Hujan yang mengubah daratan jadi laut, kereta api yang melintas, lampu yang lompat-lompat sendiri, haaaa… pokoknya suka semua yang ada di sana.
Grafisnya pun gue suka banget. Meski tergolong film yang udah berumur, tetapi mata gue termanjakan dan terpuaskan. Terasa klasik sih, meski begitu ekspresi-ekspresi Chihiro tergambarkan dengan baik. Pokoknya gue suka bangeeeet.
Musik latarnya pun juara! Nggak perlu rumit dan pakai berbagai macam alat musik. Pokoknya, suasana dalam film kebantu banget dengan musik-musik melankolis yang disuguhkan. Nggak bikin ngerasa terburu-buru, kayak penonton pasrah dan ingin tahu aja gitu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Musik penutupnya bikin diem lama… terlebih waktu bagian terakhir, ketika mereka lari-lari di tengah kota yang kosong, Chihiro pisah dengan Haku, lalu lari-lari di padang rumput… itu malah bikin nangis.
Ya, gue nangis ketika Chihiro pisah dengan Haku. Siapa yang suka perpisahan tanpa harapan bisa ketemu lagi suatu hari? Nggak ada, nggak pula gue. Meski mereka udah bikin janji…. Tapi, adegan perpisahannya tetep aja nyesek. Gue ngerasa nggak pengin ninggalin dunia arwah itu. Masih banyak yang pengin gue tahu, gue lihat… masih ingin di sana.
Kisah Spirited Away ngingetin gue dengan The Ocean at The End of The Lane-nya Neil Gaiman yang baru aja gue baca kemarin. Sama-sama fabel yang menceritakan ada dunia yang berbeda dengan dunia yang manusia tinggali. Tempat sesuatu yang ganjil bisa terjadi, sesuatu yang nggak disangka-sangka bisa terlaksana… segala yang ada di dalam imajinasi bisa terwujud. Gue selalu pengin punya pengalaman kayak gitu, bertualang ke dunia yang berbeda, ketemu makhluk-makhluk aneh, melakukan misi tertentu, dan pada satu titik… harus kembali lagi ke dunia nyata. Ada perpisahan yang menyedihkan, cerita-cerita yang nggak dipercaya oleh orang lain, tetapi kita yang mengalami tahu bahwa itu benar, itu nyata adanya.
Adegan terakhir di Spirited Away, ketika mobil yang ditumpangi Chihiro menjauh dari lorong, ngingetin sama adegan penutup di Toy Story 3. Lorong yang kian lama kian jauh dan mengecil. Perasaan sedih dan haru karena udah meninggalkan dunia yang asing, bahagia karena akhirnya bisa kembali pada sesuatu yang nyata lagi–tempat yang seharusnya. Bedanya di Toy Story 3, Buzz dkk. yang lihat mobil Andy menjauh. Ya, pada satu masa, masa kecil itu memang harus ditinggalkan di belakang ya… mau nggak mau. Yang tersisa cuma kenangan dan ingatan aja.
Namun, betapa pahitnya perpisahan, selalu ada harapan yang muncul. Chihiro dan Haku saling punya janji untuk kembali bertemu. Gue harap mereka bisa ketemu lagi.
Kisah Spirited Away adalah sesuatu yang hangat. Cerita yang bisa bikin tersenyum begitu aja. Cerita yang bikin haru sampai nggak ingin ceritanya selesai. Film yang nggak cukup rasanya untuk ditonton sekali aja. Dan setelah nonton, pengin banget ngajak orang-orang lain untuk ikut nonton. Spirited Away ini film yang wajib banget ditonton. Pokoknya gue rekomendasikan dengan amat sangat. Seenggaknya, sekali seumur hidup harus pernah nonton film ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar