Sabtu, 21 Mei 2016

SEMALAM ANAK KITA PULANG

SEMALAM ANAK KITA PULANG


Satu hal yang saya pelajari dari sejarah peradaban: penemuan roda memungkinkan manusia untuk plesir, main ke kota lain, bertemu orang baru, bertukar pikiran, lalu jatuh cinta. Atau, tidak kembali ke kampung halaman.
Semalam Anak Kita Pulang garapan Adi Marsono bercerita tentang peristiwa terakhir—tepatnya tentang kepergian seorang perempuan meninggalkan orangtuanya di desa. Dan ia pergi bukan karena ingin plesir, apalagi jatuh cinta dengan orang baru, tapi karena tuntutan ekonomi. “Duitnya nanti dipakai buat bangun rumah ya, Bu. Supaya bagus, seperti rumah Yu Ningsih,” ujar sang putri saat pamitan. “Ibu lebih butuh kabarmu daripada uangmu,” jawab sang ibu, pelan. Kabar itu tidak pernah datang. Begitu juga sang putri. Yang tersisa hanyalah melankoli tentangnya.
Melankoli inilah yang ditekankan pembuat film melalui ungkapan-ungkapan visual yang ambigu. Pada awal film, sang putri hadir sebagai mimpi. Berlatarkan bulan purnama yang tertutup awan, kita melihat sosok sang putri sedang membanting padi di halaman rumah. Sang ibu terbangun dari lelapnya, mengintip keluar lewat jendela, lalu menghampiri anaknya. Pada pertengahan film, sang putri hadir sebagai memori. Sang putri menghampiri ibunya di meja makan, membawa dua tas. Ia pamit. “Kamu jangan aneh-aneh ya di sana, Nak,” sang ibu menasehati.
Momen-momen ini mewujud begitu saja di antara kerutinan sang bapak dan ibu, tanpa ada penjelas waktu yang pasti. Setelah adegan mimpi, kita melihat sang ibu sedang menunggui tungku di dapur, menyiapkan makanan untuk sang suami. Sementara itu, adegan memori hadir setelah sang suami kelar bersantap. Penanda terkuat bahwa kehadiran sang putri tak lebih dari mimpi maupun memori adalah rangkaian gambar kandang reyot pada akhir film—kontras dengan gambaran sebuah rumah yang tertata pada awal film.

Penanda lainnya adalah tingkah para pemerannya. Selama di meja makan, sang ibu bergumam berkali-kali, “Semalam anak kita pulang.” Sang bapak hanya menyeruput teh dan menghisap rokok, dengan tangan sedikit gemetar dan tatapan kosong—seolah mencoba acuh. Asumsi yang terbentuk: sang ibu sudah terlalu sering bertingkah seperti ini, sampai-sampai sang bapak tak tahu lagi harus menanggapi apa.
Melalui detail-detail ini, Semalam Anak Kita Pulang melekatkan kehilangan pada mereka yang ditinggalkan. Karena, sebaik-baiknya sang bapak dan ibu berupaya membebaskan diri dari memori, mereka takkan pernah bisa mengingkari ruang yang menjadi saksi akan segala yang telah terjadi. Mereka tetap harus tinggal di rumah yang sama, menanti dengan kesia-siaan yang sama.
Begitulah Semalam Anak Kita Pulang terpaparkan ke penontonnya: tanpa pesan tapi penuh kesan. Tak ada ungkapan verbal yang berlebih, tak ada juga ceramah tentang “ingatlah orangtua”, “pulanglah ke kampung halaman”, atau sejenisnya. Yang ada hanyalah rasa. Semua rupa dan suara dalam film diarahkan ke sana—mulai dari kamera yang lekat menyorot wajah para orangtua, detail-detail rumah yang tidak terurus, hingga tembang macapat yang berkumandang syahdu dari sebuah radio tua. Kita sebagai penonton tidak mungkin tidak menangkap apa yang dirasakan para orangtua dalam film ini. Lebih dari itu, kita bahkan bisa berempati terhadap kehilangan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar