Selamat Pagi, Malam
Akhirnya,
sebuah film dengan ke-Indonesiaan yang kontekstual, tanpa
menggembar-gemborkan bendera nasionalisme yang digarap secara primitif. Selamat Pagi, Malam karya
Lucky Kuswandi dan kawan-kawan adalah tribut untuk Jakarta dan segala
hiruk-pikuknya. Untuk menjiwai kehirukpikukan ibukota, Selamat Pagi, Malam dikemas
dalam penuturan multiplot, dalam kisah tiga perempuan ibukota yang
malamnya bersenggolan. Meski sama-sama tinggal di Jakarta, ketiganya
memandang kota domisilinya itu dengan cara berbeda. Melalui mereka,
penonton diajak ganti-ganti sepatu, larut dalam bingung dan bising
Jakarta.
Bicara soal ganti sepatu, penonton diperkenalkan kepada seorang towel girl di sasana elit yang mengutil sepatu hak dari salah satu loker. Indri, si towel girl,
adalah kaum pekerja yang haus mengecap hidup gemerlap. Ia penasaran
dengan kemewahan, dan mendapat jawaban dari seorang juragan. Dengan
sepatu barunya, Indri berlenggang. Mengasumsikan si mapan berupa tampan
dari profpic-nya, ia kecewa mendapati kencannya obesitas, temperamen, dan hanya mengejar one-night-stand. Kegemerlapan yang diidamkan Indri runtuh, digantikan oleh romansa bersahaja dari seorang Faisal.
Sebaliknya, Ci Surya bergelimang kemewahan.
Namun, kemewahan ternyata tidak cukup bagi almarhum suaminya. Ia
berselingkuh dengan penyanyi klub malam hotel melati, Sofia. Ci Surya
yang terluka lantas memutuskan untuk mencari Sofia dan menunaikan
dendamnya, entah bagaimana caranya. Ci Surya yang paruh baya segera
berangkat ke motel Sofia, dan mempelajari bahwa dia mengalamatkan dendam
ke tempat yang salah.
Sementara baik Indri maupun Ci Surya sudah
familiar dengan Jakarta, Gia justru merasa asing. Pasalnya, ia baru
pulang dari studi filmnya di New York. Gia dihadapkan dengan standar
yang berbeda: kulit sebaiknya putih, ponsel sebaiknya dua, salah satunya
harus Blackberry, busana nongkrong harus semiformal, dan sebagainya.
Mencoba bebas, Gia mengontak belahan jiwanya dari New York, Naomi (yang
sepatunya dikutil Indri!), hanya untuk menemukan bahwa Naomi sudah
tertarik ke dalam pusaran pergaulan Jakarta. Keduanya pun menghabiskan
malam bersama, merekoleksi diri mereka yang dulu di tempat yang terasa
sangat baru.
Kegemerlapan dunia malam Jakarta dijadikan
nisbi dalam film: terang bagi Indri, suram bagi Ci Surya, dan kabur bagi
Gia. Sementara pandangan ketiganya berjalan, penonton disuguhi dengan
remah-remah khas Jakarta. Beberapa ditebarkan dengan sangat alamiah.
Salah satunya, saat Ci Surya membereskan lemari almarhum suaminya
diiringi sayup-sayup entah Zuhur entah Asar—cara yang subtil untuk
menunjukkan bayang-bayang agama dalam kehidupan ibu kota. Sementara,
adegan Gia dan Naomi yang gagal menemukan lapak nasi goreng seolah
menunjukkan progresivitas Jakarta yang meninggalkan sedikit ruang untuk
nostalgia.
Adegan terkuat film disajikan menjelang
akhir, saat (lagi-lagi) Ci Surya mendengarkan nyanyian Sofia, yang
saling silang dengan kedua plot lainnya. Rendisi akapela lagu Pergi untuk Kembali tokoh Sofia seolah menggemakan kata-kata Naomi yang juga menjadi tagline film: “There’s no place for us here”.
Semua tokoh mendapat resolusi dalam kesyahduan nada: Naomi dan Gia
harus menghadapi ketidakpastian akan masa depan mereka; Indri dan Faisal
bukanlah kisah penuh gula seperti yang terlihat; Ci Surya dan Sofia
ternyata sama-sama kosong dan sepi. Mereka semua tunduk pada aturan main
Jakarta, yang entah dibuat oleh siapa. Kaya atau tidak, minoritas atau
bukan, semua merasa hilang di tengah Jakarta.
Meski banyak kritik akan kekosongan gaya
hidup Jakarta yang disajikan secara manis, beberapa masih terasa serak.
Dialog yang frontal berisiko menghasilkan sindiran yang sulit ditelan.
Untungnya, film ini dibawa oleh aktor-aktris yang cukup kuat untuk
menghidupkannya. Hal-hal ini dapat ditemukan saat Indri dan Faisal
mendiskusikan ketidakkomersilan kerak telor, serta saat Gia dan Naomi
mendiskusikan kuatnya pengaruh agama. Dialog-dialog ini memang ditulis
cukup cermat sehingga tidak terasa muncul serta-merta. Gia dan Naomi
cukup dekat untuk membicarakan isu sensitif, sementara Indri dan Faisal
memang merasakan pahitnya pengaruh keelitan pemasaran. Namun, alasan
kuat tetap tidak mengurangi pedasnya kritik. Padahal kita tahu, tidak
semua orang suka pedas.
Risiko lain yang ditempuh Lucky Kuswandi
adalah keputusannya membuat potongan yang kasar pada potongan-potongan
adegan yang disensor. Semprotan Juragan Davit kepada Indri, dan
adegan-adegan di Hotel Lone Star menjadi gagap sana-sini, mengganggu
kenikmatan penonton dan kekuatan adegan. Kabarnya, kegagapan disengaja
sebagai aksi protes terhadap LSF. Salut untuk itu. Entah apa yang
dipikirkan LSF saat menyensor film yang secara eksplisit mencantumkan
21+ di posternya.
Untunglah, kegagapan tersebut cukup minor untuk meninggalkan aftertaste yang tak enak seusai menonton. Kekurangan terbayar oleh indahnya Jakarta yang ditangkap dengan detail melalui establishing shot yang sepertinya candid semua; aksen-aksen kecil seperti rainbow cake, LINE Games,
bistro berlagak impor, dan tongsis yang tidak luput dimasukkan; kisah
tiga perempuan yang kesepian di tengah hiruk pikuk Jakarta. Semuanya
memberi nilai baru pada kesederhanaan kerak telor dan mi keju.
Pada akhirnya, pemilihan latar waktu menjadi unsur terkuat Selamat Pagi, Malam.
Karena benar, malam adalah momen terjujur Jakarta. Saat malamlah
kejenuhan kerja terangkat dan gemerlap kota menyelinap, dibarengi kerak
telor, mi keju, dan keajaiban dunia lainnya. Menyorot Jakarta saat siang
tentu akan sangat membosankan, padat dengan peluh dan keluh. Mungkin
untuk membuktikan, seseorang perlu membuat tandingan berjudul Selamat Malam, Pagi. Dijamin, yang ditampilkan hanya kemacetan selama satu setengah jam nonstop.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar