BERMULA DARI A
Untuk publik film Yogyakarta dan Jawa
Tengah, BW Purbanegara adalah nama yang hampir satu dekade melekat
dengan perkembangan film pendek di sana. Bahkan Cheng Cheng Po,
film andalannya, menyabet Piala Citra untuk kategori film pendek di
Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2008. Tidak mukim di Jakarta tak
berarti BW tidak berskala nasional. Ia membuat semua filmnya di
Yogyakarta, tapi gaungnya, sedikit banyak melanglang buana.
Bermula dari A adalah film
pemenang Festival Film Solo 2011. Seno Gumira Ajidarma, salah satu juri,
mendapuknya sebagai film yang dapat melibatkan penonton secara simbolis
maupun secara langsung.
“Melibatkan penonton” paling gamblang dilihat lewat dua aspek:
melibatkan penonton secara emosional, atau melibatkan penonton secara
intelektual. Bagi saya, Bermula dari A berhasil di kedua aspek tersebut.
Maksud pembuat film untuk berkelindan
dengan emosi penonton terbaca jelas dengan memakai dua karakter difabel,
lelaki tuna rungu dan gadis tuna netra. Apa yang lebih mengharukan
dibanding dua orang difabel yang berusaha saling mengasuh satu sama
lain? Si perempuan mengajari temannya mengeja abjad A, sementara si
lelaki tuna rungu berusaha menyempurnakan peran sosialnya sebagai
pelindung bagi teman perempuannya, sekurang apapun ia di mata orang
lain. Lepas dari ketakmampuannya berkomunikasi verbal, si lelaki
memperbaiki kacamata temannya ke optik terdekat, berjuang menerabas
tatapan galib. Dengan kalimat yang terpapas di pangkal tenggorokan, anak
muda ini berkeras menolong sahabatnya.
Perlahan lalu pasti, Bermula dari A
memilin label difabel yang melekat pada kedua karaternya. Sedikit demi
sedikit, penonton dihipnotis untuk melupakan imaji difabel dalam kepala
mereka. Alih-alih, para karakter tiba-tiba menjelma menjadi manusia yang
berusaha sekuat kemampuan untuk hal-hal yang mereka inginkan. Film ini
berhasil mengubah paradigma penonton ketika belum lagi berjalan sepuluh
menit!
Bermula dari A lolos dari salah satu penyakit paling kronis dan mendasar dalam film-film pendek Indonesia, yakni pemborosan shot. Film-film pendek Indonesia, terutama yang dibuat oleh mahasiswa, umumnya menggunakan struktur semacam berikut: shot
orang bangun tidur oleh alarm – ia kaget karena terlambat – buru-buru
bersiwak sembari mengancingkan baju – berlari tergopoh diiringi musik punk – sampai di sekolah ketika pagar baru saja digerendel satpam. Ada lima shot yang digunakan hanya untuk menceritakan seorang anak yang telat bangun. Penempatan shot ini
digunakan secara berulang di sekuen-sekuen selanjutnya. Tak heran bila
film pendek, disamping karena masalah durasi, berpotensi menjadi jelek
karena shot yang boros.
Dalam Bermula Dari A, shot dihemat
dengan mengandalkan properti kunci. Dalam film adalah sebuah jam
dinding. Pada sekuen kedua, Ibu si gadis tunanetra membawa sebuah jam
dinding ke rumah. Penonton dibuat penasaran, karena sekuen sebelumnya
tidak berkaitan sama sekali dengan jam dinding. Beberapa sekuen
berikutnya, jam dinding itu dipecahkan oleh seseorang dan membawa narasi
film melompat lewat jendela non-diegetik. Shot ini penting, sebab selain menjadi penanda emosi film yang meningkat, ia juga menjadi perangkat ampuh untuk menghemat shot untuk membawa film ke inti ide selanjutnya. Bermula dari A meluputkan diri dari salah satu penyakit kronis film pendek Indonesia dengan cara yang unik.
Bagi beberapa penonton, Bermula dari A
mungkin saja dilihat sebagai film yang meromantisir kekurangan fisik
seseorang. Tapi bukan itu ujungnya. Kekurangan fisik ini bukan sekedar
diromantisir lalu menemui gang buntu. Lewat isu ketaktercukupan fisik,
Bermula dari A melarung diri di antara kutub stereotip antara jilbab dan
prasangka seksual, kealiman seorang imam dan hubungan janggalnya dengan
kecabulan. Bagaimana seandainya seorang gadis berjilbab meraba lawan
jenisnya karena ia tak bisa melihat? Lantas bagaimana jika seorang tuna
rungu berusaha menjadi imam yang baik bagi seorang gadis yang bahkan tak
pernah bisa ia cerna kata-katanya? Pada akhirnya, kekurangan fisik
karakter menjelma menjadi irisan romantis dalam semesta yang begitu
istimewa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar