
Jagal (bahasa Inggris: ''The Act of Killing'') adalah film dokumenter karya sutradara Amerika Serikat . Dokumenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966 memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik.
Film ini adalah hasil kerja sama Denmark-Britania Raya-Norwegia yang dipersembahkan oleh Final Cut for Real di Denmark, diproduseri Signe Byrge Sørensen, diko-sutradarai Anonim dan Christine Cynn, dan diproduseri eksekutif oleh Werner Herzog, Errol Morris, Joram ten Brink, dan Andre Singer. Ini adalah proyek Docwest dari Universitas Westminster.
Film Jagal memperoleh berbagai penghargaan, diantaranya Film Dokumenter Terbaik pada British Academy Film and Television Arts Awards 2013 dan nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Academy Awards ke-86. Sementara itu, film pendukung dari Jagal, berjudul Senyap ("The Look of Silence") diluncurkan pada 2014.
Kisah Anwar Congo, Adi Zulkadry, Herman Koto atau bahkan ilustrasi
lainnya di Medan, Sumatera Utara tampak seperti dokumentasi dan
kesaksian dari tokoh-tokoh yang dipilih dalam film tersebut. Terlepas
dari tepat atau tidaknya penggambaran kisah jagal sepanjang film
tersebut, menurut pandangan saya, negara tidak perlu memberikan respon
karena film dokumenter sekalipun hanyalah satu sudut pandang yang
berhasil direkam. Dalam kaitan ini, adalah sudut pandang atau kisah yang
diingat dari tokoh yang dipilih sutradara. Andaikata ingatan tokoh yang
dipilih dalam film tersebut valid dan benar terjadi, maka detail
pembunuhan yang digambarkannya adalah kejahatan dirinya sendiri dan
pengakuan yang dilakukannya melalui sebuah film adalah refleksi pribadi
para tokoh yang diwawancarai tersebut. Detail kekejaman yang digambarkan
tokoh-tokoh dalam film tersebut adalah khas perilaku jahat dari sang
pelaku sendiri. Satu hal penting yang harus kita sadari bersama adalah
bahwa Bangsa Indonesia tidak memiliki mimpi buruk sebagaimana pelaku kekejaman dalam film tersebut. Mengapa
kita tidak memiliki mimpi buruk sebagaimana pelaku kekejaman dalam film
tersebut, karena mayoritas bangsa Indonesia sama sekali tidak terlibat
dengan berbagai peristiwa itu dan hal itu menjadi kurang penting
manakala dikaitkan dengan kepentingan bangsa. Namun bila dikaitkan
dengan kepentingan menengakan keadilan dan rasa kemanusiaan, barangkali
upaya rekonsiliasi kebenaran masih dapat diteruskan dalam rangka
pembelajaran generasi muda Indonesia untuk masa depan Indonesia yang
lebih baik.
Cerita satu sisi dari salah seseorang atau beberapa orang yang mengaku
sebagai pelaku kejahatan di masa lalu yang dikemas dan didramatisir ala
akting theatrikal memang menarik dan mungkin jarang dilakukan, sehingga
film tersebut mendapatkan penghargaan. Hal ini bukan saja karena faktor
keunikan kisahnya, melainkan juga karena detail kekejaman yang sulit
diterima akal mayoritas bangsa Indonesia. Satu hal yang janggal adalah
sisi-sisi propaganda yang menggambarkan ultranasionalis ala Nazi seolah
tidak ada rasa bersalah atas nama Pancasila yang direpresentasikan
dengan Pemuda Pancasila.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuswew
HapusKayaknya keren tuh filmnya
BalasHapusTonton dong
Hapuswah ajib
BalasHapusfilm serem nih
Hapusminta file nya dong. boleh?
BalasHapusnjalukan
HapusFilm yang penuh kontrofersi...
BalasHapus