Sabtu, 12 Maret 2016

THA ACT OF KILLING

THA ACT OF KILLING

 











Jagal (bahasa Inggris: ''The Act of Killing'') adalah film dokumenter karya sutradara Amerika Serikat . Dokumenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966 memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik.
Film ini adalah hasil kerja sama Denmark-Britania Raya-Norwegia yang dipersembahkan oleh Final Cut for Real di Denmark, diproduseri Signe Byrge Sørensen, diko-sutradarai Anonim dan Christine Cynn, dan diproduseri eksekutif oleh Werner Herzog, Errol Morris, Joram ten Brink, dan Andre Singer. Ini adalah proyek Docwest dari Universitas Westminster.
Film Jagal memperoleh berbagai penghargaan, diantaranya Film Dokumenter Terbaik pada British Academy Film and Television Arts Awards 2013 dan nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Academy Awards ke-86. Sementara itu, film pendukung dari Jagal, berjudul Senyap ("The Look of Silence") diluncurkan pada 2014.

Kisah Anwar Congo, Adi Zulkadry, Herman Koto atau bahkan ilustrasi lainnya di Medan, Sumatera Utara tampak seperti dokumentasi dan kesaksian dari tokoh-tokoh yang dipilih dalam film tersebut. Terlepas dari tepat atau tidaknya penggambaran kisah jagal sepanjang film tersebut, menurut pandangan saya, negara tidak perlu memberikan respon karena film dokumenter sekalipun hanyalah satu sudut pandang yang berhasil direkam. Dalam kaitan ini, adalah sudut pandang atau kisah yang diingat dari tokoh yang dipilih sutradara. Andaikata ingatan tokoh yang dipilih dalam film tersebut valid dan benar terjadi, maka detail pembunuhan yang digambarkannya adalah kejahatan dirinya sendiri dan pengakuan yang dilakukannya melalui sebuah film adalah refleksi pribadi para tokoh yang diwawancarai tersebut. Detail kekejaman yang digambarkan tokoh-tokoh dalam film tersebut adalah khas perilaku jahat dari sang pelaku sendiri. Satu hal penting yang harus kita sadari bersama adalah bahwa Bangsa Indonesia tidak memiliki mimpi buruk sebagaimana pelaku kekejaman dalam film tersebut. Mengapa kita tidak memiliki mimpi buruk sebagaimana pelaku kekejaman dalam film tersebut, karena mayoritas bangsa Indonesia sama sekali tidak terlibat dengan berbagai peristiwa itu dan hal itu menjadi kurang penting manakala dikaitkan dengan kepentingan bangsa. Namun bila dikaitkan dengan kepentingan menengakan keadilan dan rasa kemanusiaan, barangkali upaya rekonsiliasi kebenaran masih dapat diteruskan dalam rangka pembelajaran generasi muda Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. 
Cerita satu sisi dari salah seseorang atau beberapa orang yang mengaku sebagai pelaku kejahatan di masa lalu yang dikemas dan didramatisir ala akting theatrikal memang menarik dan mungkin jarang dilakukan, sehingga film tersebut mendapatkan penghargaan. Hal ini bukan saja karena faktor keunikan kisahnya, melainkan juga karena detail kekejaman yang sulit diterima akal mayoritas bangsa Indonesia. Satu hal yang janggal adalah sisi-sisi propaganda yang menggambarkan ultranasionalis ala Nazi seolah tidak ada rasa bersalah atas nama Pancasila yang direpresentasikan dengan Pemuda Pancasila.


9 komentar: