Jumat, 11 Maret 2016

THE FOX EXPLOITS THE TIGER'S MIGHT

THE FOX EXPLOITS THE TIGER'S MIGHT













Saat Orde Baru berkuasa, banyak orang untuk diam. Beberapa memilih begitu beberapa lagi karena terpaksa. Keberdiaman tersebut sejatinya menandai represi. Salah satu represi itu juga tidak terkecuali mempenetrasi tubuh dan seksualitas seperti yang disuguhkan film pendek garapan Lucky Kuswandi berjudul The Fox Exploits The Tiger’s Might. Film ini diputar perdana di Film Musik Makan 2015 dan selama bulan April  tayang di progam #KolektifJakarta: Mengalami Kemanusiaan.
Di sana Lucky mengomentari hak yang mendasar juga sensitif: relasi kekuasaan dan seksualitas dari kacamata etnis minoritas di kala Orde Baru. Aseng adalah remaja SMP berdarah Tionghoa. Ia tinggal bersama kakak perempuan dan ibunya di sebuah kota kecil yang dekat dengan markas militer. Keluarga Aseng membuka warung yang juga menyediakan miras selundupan. Tak jarang, keluarga Aseng perlu memberikan ‘salam tempel’ khusus untuk aparat agar bisnisnya tetap berjalan. Sementara itu, Aseng sendiri berteman dengan David, anak pejabat militer yang bossy. Keduanya tengah memasuki masa di mana libido tengah bergejolak juga lingkungan yang tak kalah beriak.

Dilihat dari judul, The Fox Exploits The Tiger’s Might atau hú jiǎ hǔ wēi merupakan penamaan yang pas untuk itu. Judul tersebut diambil dari kisah terkenal masyarakat Mandarin. Jika diartikan bebas; kelompok yang mem-bully atau menindas orang lain ketika mereka berasosiasi dengan seseorang yang kedudukan yang lebih kuat. Beking yang membawa beceng, ah betapa menjijikkannya itu.
Dengan latar pemerintahan Orde Baru, TFETTM mampu bermain-main dengan makna kekuasaan secara ‘mengganggu’. Lihat saja jari jemari memperagakan bentuk pistol, yang diikuti penggambaran repulsif aksi felatio. Seolah-olah penjilat kekuasaan hadir di mana-mana. Selanjutnya pistol sendiri berperan cukup penting, sebagai bentuk maskulinitas serta pemegang kuasa.

Seksualitas pun tidak hanya tentang hasrat atau pleasure namun juga bagian pernyataan politis dan kebebasan seseorang. Sebabnya, Lucky membawa penonton untuk bisa memaknai sexual divesity. Lewat karakter Aseng yang naif,  ia melihat dan dekat dengan beragam bentuk relasi seksual. Ibunya yang paruh baya mendapat sexual harrastment oleh ajudan muda Ayah David,itu sedikit banyak menyiratkan oedipus complex. Ada lagi ketika Aseng mengintip kakaknya berasyik masyuk dengan sang pacar di kamar, yang mendeskripsikan heterosexual. Namun dalam hubungan hetero itu, si pria terlihat mengeksploitasi si perempuan dengan menyuruhnya sesuai kehendak. Lalu, Aseng juga menatap lekat para tentara melakukan push up di bawah komando. Ketiga gambaran tersebut menandakan tubuh-tubuh diam yang diatur atau disiplinkan lewat relasi kekuasaan. Tidak dipungkiri, ada superioritas dan inferioritas di dalam sana.

Di saat bersamaan, Aseng melihat seksualitas dengan pemahamannya sendiri. Wajahnya tampak memendam. Ia merasakan banyak represif dan hal menjijikan. Usianya yang masih di bawah umur meredamnya mengajukan pertanyaan soal seks. Seperti yang kita tahu, remaja seusianya sering dijauhkan dari hal berbau seksualitas. Membicarakan pun mengetahuinya bisa menjadi dosa dan hukuman. Sekolah sebagai perpanjangan tangan negara tidak terlepas dalam hal ini. Seragam sekolah yang kerap terlihat dikenakan Aseng dan David tidak melulu sebagai simbol karakteristik namun juga menyiratkan desain normalisasi itu. Salah satu faktor ini membuat Aseng menjadi asing dengan bentuk seksualitas di luar yang ditentukan padahal hal tersebut ada di kesehariannya.
Jauh sebelumnya, Foucault pernah menjelaskan keadaan seksualitas di era Victoria yang harus direstriksi seperti tidak boleh dibicarakan bahkan dipikirkan demi terciptanya masyarakat puritan yang utuh. Alhasil, letupan wacana soal seks yang berasal dari arus bawah tak dapat terhindarkan, menyebabkan identitas seksual menyeruak ke hadapan publik.

Begitu pula dengan Aseng di penghujung film, semakin ia ditekan dan diatur oleh David, besar pula kemungkinan menyongsong kebebasan. Karena memang tiap laku kekuasaan selalu menghadirkan resistensi yang sama kuat. Dilihat dari segi Male Homosocial Desire-nya Sedgwick, Aseng dan David menyimpan kesamaan interest, yang paling kuat adalah video arcade (kontrol game ini seperti Phallus) dan foto Eva Arnaz. Keduanya membagi pleasure. Sampai satu momen Aseng melepaskan confession yang kemudian menjalarkan homophobia oleh David. Ia mengumpati Aseng tapi tak berapa lama menikmati desire yang tumbuh. Pertanyaannya mungkin, apa perlu coercive power untuk memastikannya?

Lucky menggambarkan hubungan Aseng dan David tidak secara tersurat. Ia sengaja membuatnya menjadi samar-samar dan nyatanya kejelasan pun tidak terlalu dibutuhkan. Artinya ending TFETTM nampak mengundang penonton untuk mencerna perasaan yang hidup di dalam layar dan juga menumbuhkan pertanyaan menggantung yang tidak pernah selesai. Akhirnya tarik menarik persoalan ini ditutup dengan dua remaja yang bergulat dan tetap bergulat tanpa tujuan di tanah lapang.
Siapa si Rubah Itu?

Si rubah bisa saja orang-orang seperti Ajudan Ayah David atau David sendiri yang meneksploitasi asosiasinya dengan kekuasaan militer Orde Baru demi mempencundangi kelas yang berada di bawah selangkangannya. Nah hal ini menarik ketika dibenturkan dengan agenda asimilasi Orde Baru. Warga Tionghoa diwajibkan memilih identitas budaya yang mencakup nama dan kepercayaan pada 1966 oleh Orde Baru. Padahal sebelumnya, Soekarno sempat menolak usulan itu karena identitas adalah hak pribadi tiap individu yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

Tapi warga Tionghoa di film ini pun tidak bersih-bersih amat, soalnya mereka memang melakukan bisnis ilegal sehingga jadi target aparat. Jika diliat lebih jauh lagi, nyatanya pemerintahan Orde Baru juga digandoli oleh lobi-lobi konglomerat Tionghoa. Yang paling kentara adalah Bob Hasan yang membangun dinasti ekonomi lewat asosiasinya dengan Soeharto. Maka sah saja kita bisa mempertanyakan, apakah si rubah itu kelompok minoritas juga, dalam hal ini warga Tionghoa Indonesia?
Atau bisa jadi, TFETTM hanya fenomena rembesan dari struktur yang masif. Soalnya, satu hal lainnya, dalam film ini Lucky menggambarkan keluarga Tionghoa tetap menggunakan nama asli mereka, Aseng misalnya. Representasi ini jadi cara Lucky menyodorkan rasialisme yang dilakukan David ketika mengolok-ngolok nama Mandarin. Ini telah menjadi paradoks dari agenda asimilasi Orde Baru.

6 komentar: